Sekapur Sirih

Bismillahirahmanirrahim,
Assalamualaikum wr wb,

Dengan Bismillah membuka kata
Menyampaikan niat kami yang ada
Jika mendapat ridho Yang Kuasa
Hendak belajar berkata - kata

Saya jemput tuan dan puan
Beserta segala sanak saudara
Kiranya sudi keblog yg ada
Memberi restu beserta doa

Cari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat

Cari olehmu akan guru
Yang boleh taukan tiap seteru

Cari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan

(Gurindam Dua Belas pasal keenam)

Salam sejahtera buat semua tuan dan puan, selamat datang di blog pribadi kami,mohon kritik dan saran karna masih dalam pembelajaran, mari berbagi pengalaman diberbagai hal, kecil telapak tangan nyiru kami tadahkan....

Wassalam

MENYIAPKAN TRANSPORTASI LAUT YANG AMAN


Wajah transportasi laut Indonesia khususnya Kabupaten Natuna sedang suram saat ini akibat beberapa kecelakaan transportasi yang terjadi beruntun di dalam negeri dan kampung ini. Seolah musibah ini datang silih berganti, baik itu transportasi udara, darat, maupun laut. Korban jiwa yang jatuh dalam satu tahun terakhir ini pun tidak bisa dianggap sedikit.

Ada sebuah alternatif khususnya di kawasan Serasan dan Subi yaitu dengan mempercepat pembangunan Dermaga Laut yang aman dari angin musiman dan dekat dengan pemukiman serta percepatan pembangunan bekas bandara peninggalan Jepang di Pulau Subi.

Kebutuhan akan transportasi yang aman dan nyaman merupakan hal penting yang harus diperhatikan pemerintah. Indonesia adalah negara kepulauan yang tentu saja memiliki kebutuhan alat transportasi antar pulau yang tinggi. Saat ini kegiatan mobilitas penduduk antar pulau dilayani dengan kapal laut dan pesawat udara. Selain kedua alat transportasi ini apakah ada alternatif lain?

Dari segi waktu tempuh, jelas pesawat udara jauh lebih unggul dari kapal laut. Namun, untuk jarak dekat misalnya untuk penyebrangan antar pulau, kapal laut lah pilihan yang tepat. Mungkinkah kita menggabungkan keduanya, menciptakan kapal laut yang bersayap dan dapat terbang? Jawabnya adalah sangat mungkin.

Kapal bersayap adalah pesawat terbang yang sengaja dirancang untuk terbang rendah. Tujuannya adalah untuk mendapatkan efek permukaan (ground effect) yang berguna menambah gaya angkat. Kendaran jenis ini dikenal dengan nama Wing in Ground/Surface Effect (WiGE atau WiSE). Dibandingkan dengan kapal laut, WiSE memiliki keunggulan yaitu meniadakan gaya hambat dari air laut karena telah berada beberapa centi diatas permukaan laut dan pada akhirnya tentu saja kecepatan yang didapat lebih tinggi, waktu tempuh singkat, dan efisiensi bahan bakar yang lebih baik.

Prinsipnya, WiSE manfaatkan efek pemampatan udara permukaan yang terjadi pada objek benda yang terbang rendah. Efek tambahan gaya angkat ini dipertahankan dengan memilih kecepatan terbang yang sesuai dan bentuk aerodinamik yang sesuai pula.

Gaya angkat pada sayap terbangkit akibat adanya perbedaan tekanan dipermukaan atas dan permukaan bawah sayap akibat gerak relatif udara terhadap sayap. Namun, konsekuensi dari perbedaan tekanan ini adalah terjadinya ‘kebocoran’ tekanan di ujung tepi sayap (wing tip) dan terjadi kerugian gaya angkat. Saat terbang rendah, downwash yang tercipta di tepi sayap ini ‘terhalang’ oleh permukaan, sehingga didapatllah tambahan gaya angkat.





WiSE craft memang belum dikenal di Indonesia. Namum bukan berarti janis kendaraan ini belum pernah ada didunia. Beberapa konsep WiSE craft yang telah ada antara lain KM Ekranoplan dan Lun Ekranoplan buatan Uni Soviet dan Pelikan yang dibuat oleh Boeing. Sudah seharusnya lah WiSE menjadi pilihan alternatif untuk Indonesia mengingat profil geografis Indonesia yang sangat cocok untuk WiSE.

Saat ini Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tengah mengembangkan dan merancang prototipe kapal bersayap ini. Dalam pengerjaanya, BPPT bekerjasama dengan institusi pendidikan seperti ITB dan ITS. WiSE craft-8, yang saat ini sedang dikerjakan, menggunakan material komposit dengan tenaga penggerak single propeler. Kapal bersayap ini memiliki kapasitas 8 penumpang dan mampu terbang rendah dengan kecepatan 80 -120 knots, atau tiga kali lebih cepat dari kapal laut biasa.

Harapan kedepan semoga saja alat transportasi WiSE dapat dikembangkan oleh industri nasional untuk memenuhi kebutuhan transportasi laut nasional. Kabarnya, prototipe WiSE craft 8 BPPT-ITB saat ini sedang dibuat di daerah Serang, Banten. Kita tunggu saja.


.... Selengkapnya

04 Mei 2009 Kategori: oleh: Granat Natuna : komentar (0)  

MUSIBAH DI LAUT SERASAN









.... Selengkapnya

03 Mei 2009 Kategori: oleh: Granat Natuna : komentar (0)  

MENILIK LAHIRNYA KOTA RANAI

Desember 1790, merupakan peristiwa sejarah yang menunjukan lambang kejayaan dan kegagahan masyarakat Kepulauan Natuna termasuk Ranai melawan kolonial Belanda, yang pada masa itu dipegang oleh Datuk Kaya Wan Moehammad Senibung. Sehingga secara psikologis, apabila moment Desember 1970 diangkat hari jadi Kota Ranai merupakan manifestasi dari kemenagan, kejayaan dan kecemerlangan masyarakat Natuna khusunya Ranai.

Dengan demikian, apabila tahun 2009 sebagai Ulang Tahun Perdana maka merupakan Ulang Tahun Yang ke 219. Sedangkan Penentuan tanggalnya pada bulan Desember, dapat dimusyawarahkan dengan para tetuan dan sesepuh Kota Ranai, yang memperkirakan sebuah tanggal pada bulan Desember memiliki makna dan keistimewaan tersendiri.

Sebuah Pilihan tanggal , adalah tanggal 11 Desember 2009 yang merupakan hari Jum'at minggu kedua pada bulan tersebut. Hari Jum'At merupakan penghulu hari yang mempunyai kelebihan atau fadhilat yang besar bagi umat Islam, Angka 11 dipilih merupakan angka ganjil dimana Allah menyukai angka ganjil.


.... Selengkapnya

24 April 2009 Kategori: oleh: Granat Natuna : komentar (2)  

Protokoler

Serangkaian aturan dalam acara kenegaraan atau acara resmi yang meliputi aturan mengenai tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan sehubungan dengan penghormatan kepada seseorang sesuai dengan jabatan dan atau kedudukannya dalam negara , pemerintah atau masarakat......nah itu tugas Sang protokol.


.... Selengkapnya

23 April 2009 Kategori: oleh: Granat Natuna : komentar (0)  

JEMPUTAN MELAWAT



Setelah lawatan keluarga besar Pengakap Negara Malaysia (Johor,Melaka dan Serawak) di Kwartir Cabang Natuna, sekaligus pemberian penganugerahan kepada Bupati Natuna sebagai Ketua Mejelis Pembimbing Cabang Kwartir Cabang Natuna pada tanggal 30 Maret 2009, Pada kesempatan tersebut, Ketua Pesuruh Jaya Pengakap Negara Malaysia menyerahkan Pingat Anugerah Gemilang dari Persekutuan Pengakap Negara Malaysia kepada Bupati Natuna karena telah menghubungkan dan mempererat kedua organisasi kepanduan tersebut (Pengakap Negara Malaysia dan Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Natuna.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pesuruh Jaya Pengakap Negara Malaysia, Dtk H. Kaharuddin Bin Munin mengatakan bahwa kunjungan kali ini adalah bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi serumpun mengingat letak dan bentuk kebudayaan yang ada di dua negara memiliki banyak kesamaan. Ditambahkan pula bahwa guna mencapai pemabangunan yang maju, modal utama adalah ilmu pengetahuan dari generasi muda yang nantinya akan meneruskan perjuangan dalam pembangunan bangsa dan negara. Untuk itu melalui Gerakan Pramuka maupun pengakap yang memiliki kesamaan tujuan dan gerak langkah membina generasi muda yang berakhlak dan berani menghadapi tantangan dimasa hadapan.
Begitu banyak keuntungan dari organisasi kepanduan yang terkadang tidak disadari oleh orang tua. Namun secara perlahan tapi pasti, gerakan kepanduan ini akan memberikan pengaruh yang baik bagi pertumbuhan mental generasi muda. Untuk itu, tidak berlebihan jika pemerintah baik Indonesia maupun Malaysia memberikan perhatian lebih pada organisasi ini.

Kwarcab Natuna diundang tuk menghadiri JAMBORI PENGAKAP MELAKA BANDARAYA WARISAN DUNIA KE-7, yang akan dilaksanakan pada tanggal 30 Mei s.d 4 Juni 2009 di Kem Bukit Katil Melaka. Rekan Pramuka Natuna ditunggu kedatangannya sebagai tamu istimewa pada kegiatan tersebut, smoga sukses.

.... Selengkapnya

14 April 2009 Kategori: oleh: Granat Natuna : komentar (0)  

Biaya jadi Caleg fantastis ya ….

Biaya jadi Caleg fantastis ya …. terus cara mengembalikannya, bagaimana ya?

Dana kampanye yang dikeluarkan calon anggota legislatif mulai terungkap. Hj Titin Nurbaini, caleg DPRD Provinsi Kepri dari Partai Demokrat, mengaku telah mengeluarkan dana hingga Rp 1,4 miliar. Untuk kepentingan kampanye, Titin mengeluarkan dana Rp 1,183 miliar. Dana itu belum ditambah gaji anggota tim sebesar Rp 200 juta. “Sisanya biaya transportasi, kebutuhan konsumsi, dan membeli obat-obatan untuk dibagikan kepada masyarakat,” ujar ibu yang akrab disapa Jeng Ayu ini kepada Tribun.

Jeng Ayu menempati nomor urut 3 daerah pemilihan Batam. Perolehan suara Jeng Ayu diperkirakan akan terdongkrak menyusul naiknya suara Partai Demokrat. Kendati mengeluarkan dana yang fantastis, Jeng Ayu mengaku tidak pusing. Alasannya isi pundi-pundinya itu justru didapat dari masyarakat dan dikembalikan kepada masyarakat. Jeng Ayu yang membuka praktik pengobatan alternatif ini mengaku berpenghasilan hingga Rp 160 juta per bulan. “Saya percaya, insya Allah jika melaksanakan amanah dan menjalankan agama dengan baik, rezeki yang lebih banyak akan selalu datang,” jawabnya mantap. Bukan hanya materi yang dikeluarkan, pemilu ini juga menguras tenaga dan waktu istirahatnya. Dalam 10 bulan terakhir, Jeng Ayu hanya tidur selama 1,5 jam per hari. Meski nanti sudah menjadi wakil rakyat, dia berjanji akan tetap melayani masyarakat berobat tanpa bayar alias gratis. Namun, pelayanan itu bisa dilakukan setelah menjalankan tugas negara yang diembannya.

Sementara itu, saya punya seorang teman yang menjadi Caleg melalui partai politik kelahiran tahun 1999 untuk DPR RI dari Dapil yang ada di D.I. Yogyakarta. Dinyatakan biaya yang sudah dikeluarkan selama proses nyaleg sampai pencontrengan sudah mencapai lebih dari 1, 5 milyar rupiah. Dikabarkan dari hitung-hitungan suara yang lagi dalam proses pengumpulan ini, agaknya teman saya itu akan masuk/berhasil merebut salah satu kursi DPR RI.

Sedangkan ada teman juga yang sudah mengeluarkan sekian juta ….. juga dari D.I. Yogyakarta sepertinya harus menelan pil pahit alias gagal dapat kursi DPR …… ya, De Nasiv.

Yang jadi fokus tulisan ini, ternyata biaya nyaleg fantastis ya …. kalau nanti sudah jadi legislator gimana ya cara mengembalikannya …. memang apa masih ada sih SESEORANG nyaleg dengan konsep tanpa biaya seabreg begitu …. kira-kira tanpa korupsi apa bisa mengembalikan modal ya …. Itu untuk yang jadi masih nggak jelas kembalinya modal …. Kalau yang nggak jadi malah jelas ngelihatnya, pasti STRESS!



.... Selengkapnya

13 April 2009 Kategori: oleh: Granat Natuna : komentar (0)  

Banzanji dan Paradoks Ritualitas Maulid SAW


Syair kitab barzanji karya Sayid Ja'far bin Husain bersentuhan dengan ahlaq Nabi. Tapi hanya jadi nyanyian ketika perayaan Maulid

Oleh: Hermanto Harun *

Muhammad bin Abdullah, itulah nama yang paling masyhur sejagad. Sebuah nama yang selalu paling popular dalam semua zaman, melebihi semua bintang, selebritis dan bahkan tokoh yang telah dan akan menjadi pigur manusia di atas bentangan bumi ini. Popularitas nabi Muhammad SAW seolah tidak pernah menemui kata penutup bagi tinta sejarah dalam merekam jejaknya. Segala tingkah laku, tutur kata dan perjuangannya senantiasa menjadi acuan dalam tindakan manusia. Rekam jejak nabi Muhammad SAW menitiskan keteladanan yang melampaui sekat kesukuan, kebangsaan dan bahkan keagamaan. Sehingga sampai hari ini, biograpi (sirah) nabi terakhir ini (khatam al-nabiyin) paling banyak ditulis oleh umat manusia. Ragam tulisan biograpi tentang nabi Muhammad SAW mencakup semua dimensi dan sudut pandang keilmuan, baik ekonomi, sosial, politik, budaya dan kemanusiaan. Dengan demikian, Anis Mansur, pemikir sekaligun budayawan Mesir, menoreh judul buku-nya A’zam al-Khalidin (pembesar-pembesar yang abadi) dengan menempat sosok nabi Muhammad sebagai pembesar pertama di antara nama pembesar dunia lainnya. Kebesaran nabi Muhammad, menurut Anis, karena beliaulah satu-satunya manusia di jagad ini yang paling sukses, baik pada tatanan keagamaan maupun keduniaan. (Anis Mansur, 2005, 7).



Pelbagai karya tentang kepribadian nabi Muhammad SAW itu tidak hanya digoreskan oleh para ulama Islam yang notabene-nya pemangku warisan risalah beliau. Akan tetapi, ada cukup banyak karya yang diukir oleh kurir tinta pengingkar dan oposisinya. Hilal Gorgun dalam website lastprophet.info, mencoba merekam banyak karya para orientalis yang mencoba menganalisa sosok Rasul tersebut. Dalam tulisannya yang berjudul ”The Orientalist View of Prophet Muhammad” Gorgun menyebutkan karya Montgomery Watt, dalam Muhammad at Madina yang menjelaskan bahwa sebagai tokoh besar dalam sejarah, nabi Muhammad adalah tokoh yang paling banyak dicemari namanya. Masih banyak lagi karya orientalis tersebut seperti Refutation du Coran Confutatio Alcorani yang ditulis oleh Nicetas Byzantium pada abad ke 9 M, juga Chronographia yang ditulis oleh Theophanes (758 - 816).

Ragam perspektif, motif dan bahkan keyakinan perbagai penulis dan sejarawan, telah memeriahkan sekaligus memperlengkap catatan-catatan kepribadian Rasulullah tersebut, sehingga wujud nabi Muhammad SAW yang telah sirna dari alam fana, seolah dapat diilustrasikan kembali dalam kenyataan. Gambaran kepribadian Rasul selalu menjadi rujukan yang dirindu kehadirannya dalam segala ruang waktu dan masa. Sehingga semua problematika kemanusiaan sampai hari ini, bahkan untuk masa mendatang, seolah telah terakomodasi dalam sabda Rasul. Dinamika kehidupan manusia dalam lintas waktu, rasanya sangat sulit untuk tidak menoleh kepada perilaku nabi Muhammad, karena sosok kenabian dan kerasulannya mamang telah dipersiapkan oleh Pengutus (Allah SWT) untuk menjadi problem solver, pengayom dan penerang bagi kehidupan anak cucu Adam. Disnilah letak relevansi jawaban Aisyah RA ketika ditanya oleh para sahabat tentang perilaku Rasulullah, seperti apakah akhlak nabi Muhammad SAW itu? dengan bahasa yang lugas, Aisyah mengungkapkan ”kana khuluquhu Al-Quran” (akhlaknya adalah Al-Quran), sebagimana juga termaktub dalam firman Allah SWT ”wainnaka la’ala khuluk azlim”.

Dalam bingkai keindonesiaan, bincang tentang keteladanan Rasul SAW sudah menjadi bagian dari ritualitas budaya yang telah berurat berakar. Bulan Rabiul Awal seakan terhipnotis oleh ritual maulid yang tidak boleh absen dari agenda tahunan umat, bahkan telah menjadi ritual beberapa negara yang berpenduduk mayoritas muslim, sehingga pada tanggal 12 Rabiul Awal dijadikan hari cuti nasional.

Tentu dalam perspektif keagungan seorang utusan Tuhan, pengadaan pelbagai ritual hingga keputusan cuti nasional sebagai perlambangan akan cinta kepada baginda Rasul, rasanya juga belum sangat memadai, karena perjuangan nabi Muhammad SAW tidaklah sebanding dengan hadiah cuti tersebut. Bahkan, seremoni perngatangan maulid justru tidak jarang mengaburkan substansi perjuangan dan risalah ajaran yang dibawa beliau, baik dalam realitas kemanusiaan maupun dalam bingkai kerasulan. Dalam bingkai kemanusiaan, misalnya, bagaimana sikap Rasul yang sangat care terhadap eksistensi manusia, bahkan sampai kepada jasad manusia sekalipun. Seketika jenazah seorang Yahudi melintas dihadapannya, maka Rasul berdiri sebagai penghormatan atas jasad manusianya.

Maulid dan Kitab Barzanji

Dalam perspektif kerasulan, ada banyak hal yang sangat urgen untuk ditelaah kembali dalam kegiatan seremonial maulid al-rasul. Seremonial maulid yang sejatinya tidak semata ritualitas yang pada akhirnya terjumus kepada pengkultusan dan bahkan cenderung taqlid buta kepada budaya, adat istiadat dan bahkan meniru ritual agama selain Islam, merupakan kecelakaan sejarah dalam menerjemahkan pesan kerasulan Muhammad SAW. Pesan maulid yang seharusnya merekatkan kembali parsialitas pemahaman masyarakat tentang Islam yang integral, justru semakin samar. Kesan maulid di tengah masyarakat hanya tercitrakan dengan koor syair-syair kitab barzanji yang ditulis oleh ulama asal Kurdistan (al-barzanjiyah) yang bernama Sayid Ja'far bin Husain bin Abdul Karim al-Barzanji.

Kitab Barzanji yang berjudul asli "I'qd al-Jawhar fi Mawlid al-Nabiy al-Azhar" karangan ulama kesohor tesebut, isinya sangat bersentuhan dengan kehidupan Rasul, baik hikayat beliau dilahirkan, keluarga sampai kepada akhlak moral. Namun, sangat disayangkan, bait-bait syair indah dalam kitab tersebut hanya sekedar lantunan hiburan yang miskin akan makna spritualitasnya. Penerjemahan seremoni maulid ke dalam ruang ”ritualitas” sangat mungkin merupakan bagian dari parsialitas pemahaman Islam tadi, karena keberkesanan hari kelahiran Rasul seolah bentuk lain dari perayaan ”happy birth day” walau dipoles dengan irama verbalistas religius. Padahal, substansi dari perayaan maulid, selain aktualitas cinta secara verbal, mengenang kepribadian dan perjuangan Rasul, juga bagaimana menerjemahkan ketauladanan pribadi beliau ke dalam segala dimensi kehidupan manusia kekinian.

Bertolak dari fakta tersebut, akhirnya para ulama berbeda pendapat tentang perayaan ”ritual” maulid Nabi. Dari yang berdapat sangat literal sampai kepada asumsi rasional, dari yang beragumen bid’ah hingga yang berasumsi sunnah. Misalnya, Ibn Hajar berasumsi bahwa perayaan maulid belum dikreasikan pada era pertama Islam, sedangkan Jalal al-Din al-Suyuthi berasumsi bahwa seremoni maulid sudah ada semenjak kelahiran Rasul. Dengan hujjah bahwa kakek baginda nabi, Abd al-Muthalib dan nabi sendiri merayakannya sebelum era kerasulan. Pendapat lain dari Abd Rauf Uthman, yang menyuguhkan bahwa perayaan maulid ”dipatenkan” oleh penguasa Dinasti Syiah Fathimiyyah di Kairo sebagai media aproac kepada rakyat. Namun ada juga yang berasumsi bahwa perayaan maulid berawal dari inovasi Shalahuddin al-Ayubi sebagai injeksi ruh jihad kepada prajuritnya dalam menghadang pasukan salibis.

Terlepas dari mana yang paling benar dari pendapat di atas, yang jelas semua sepakat bahwa kepribadian Rasul sebagai uswah hasanah telah diabadikan Tuhan dalam Al-Quran. Uswah hasanah tersebut jelas tidak tereliminasi dalam ranah yang sempit, parsial, apatahlagi harus terkungkung dalam wilayah seremonik. Hal ini selaras dengan argumen Said Hawwa dalam bukunya al-Rasul, yang menjelaskan empat sifat esensial para Rasul itu. Pertama, kejujuran mutlak yang tidak akan pernah dibatalkan dalam kondisi apapun. Karena itu, ungkapan para Rasul akan selalu bersenyawa dengan ranah realitas. Kedua, sikap konsistensi yang total terhadap apa yang telah diperintahkan oleh Sang Pengutusnya. Dari sini, perilaku seorang Rasul sangat mustahil keluar dari rule yang telah digariskan Tuhan. Ketiga, kontinuitas peyampaian kandungan al-risalah (wahyu) secara integral walau harus menghadapi pelbagai tantangan. Keempat, kecerdasan yang brilian, karena penyampain wahyu akan mangalami stagnasi jika tidak sepadan dengan rasionalitas umat. Semua muwasafat (karakteristik) Rasul ini merupakan elemen dasar dari kepribadian Rasul dengan tanpa mengesampingkan karakteristik yang lain.

Jadi, peringantan maulid yang telah menjelma menjadi ritual tersebut, jelas bukan sekedar menceritakan keindahan pisik Rasul, keanggunan akhlak, kepiawaian kepemimpinan, dan keagungan risalah yang dibawa oleh beliau, akan tetapi semestinya semua itu menjadi cermin bagi umatnya dalam mengaca perilaku kehidupan. Sudahkan ritual itu menjadi standar yang selalu dievaluasi, atau hanya lipstik dari ungkapan bibir yang tidak pernah beriringan dengan kebijakn perilaku kita?jika belum, maka ritual maulid hanya drama paradoksal yang dipentaskan di panggung dusta. Nauzubillah! Wallhu’alam.

Penulis adalah dosen Fak Syariah IAIN STS Jambi.. Mahasiswa Program Doktoral National University of Malaysia.

.... Selengkapnya

Kategori: oleh: Granat Natuna : komentar (0)  





Tragedi Laut Serasan